4 Maret 2011

Dehidrasi Ringan Lebih Berbahaya




Jangan sepelekan rasa haus dan menunda minum. Kekurangan cairan di dalam tubuh bisa mengakibatkan dehidrasi, yang bisa berdampak pada timbulnya penyakit-penyakit berat.Masyarakat kebanyakan kerap menjadikan rasa haus sebagai peringatan awal bahwa mereka hams segera mengonsumsi air. Padahal rasa itu sebenarnya merupakan tanda paling akhir yang diberikan rubuh karena kekurangan cairan. Akibat pendapat yang salah tersebut, tidak heran jika masyarakat kerap mengalami gangguan berupa dehidrasi ringan [mild dehydration).
Health Marketing Director PT Danone Indonesia Regina Karim mengatakan masyarakat kerap salah kaprah dalam mengenali tanda-tanda dehidrasi pada tubuh mereka. Alhasil, tanpa disadari, mereka hampir selalu mengalami dehidrasi ringan. Kalangan yang paling sering terkena gangguan ini adalah remaja.
"Dari hasil survei yang kami lakukan terhadap anak-anak usia remaja, antara 15 sampai 18 tahun, baik di daerah dataran tinggi maupun di daerah dataran rendah, temyata separo dari mereka sering mengalami dehidrasi ringan," kata Regina yang melakukan penelitian terhadap remaja di wilayah Jakarta, Surabaya, Malang dan Bandung.
Kendati dampak yang ditimbulkan akibat dehidrasi ringan ini tidak terlalu fatal, bila sering terjadi bisa mengakibatkan timbulnya penyakit-penyakit serius pada rubuh. Biasanya dimulai dari ginjal dan kemudian menyebar ke organ-organ tubuh lainnya.
Menurut Regina, dehidrasi adalah suatu keadaan ketika tubuh kehilangan cairan elektrolit yang sangat dibutuhkan organ-organ tubuh untuk bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Beberapa fungsi itu antara lain melarutkan zat-zat, melancarkan peredaran darah, serta membuang racun dan zat-zat sisa.Dehidrasi, lanjut Regina, bisa disebabkan karena akivitas yang dilakukan oleh setiap individu. "Tapi bukan berarti orang yang tidak berkeringat dan duduk dalam ruangan ber-AC akan bebas dari dehidrasi," tambah Regina.
Dalam kadar berat, dehidasi menjadi momok yang menakutkan karena bisa menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak dan orang lanjut usia. Namun umumnya kasus dehidrasi berat akan lebih cepat dideteksi.
lustru yang dianggap berbahaya adalah dehidrasi ringan, sebab umumnya orang tidak akan menyadari bahwa dirinya terkena dehidasi ringan. Padahal, efek jangka panjang dari dehidrasi ringan akan berbengaruh pada kondisi kesehatan individu yang bersangkutan. "Dari luar, mild dehydration tidak akan terlihat. Jadi kita akan tidak peduli," kata Regina.
Dehidrasi ringan berbeda dengan dehidrasi berat yang biasanya lebih mudah untuk dilihat secara kasat mata, seperti berkurangnya kesadaran, tangan dan kaki menjadi dingin dan lembap, denyut nadi semakin cepat dan lemah hingga bisa tidak teraba. Dehidarasi berat juga bisa ditandai dengan menurunnya tekanan darah secara drastis dan
berubahnya warna kuku, mulut, dan lidah menjadi kebiruan.
Mild dehydration biasanya hanya bisa dilihat dari air seni orang yang bersangkutan, yang warnanya akan terlihat cokelat muda hingga cokelat tua. Ini berbeda dengan warna urine pada orang yang tidak mengalami dehidasi ringan, yang cenderung kekuning-kuningan.
Meski tidak disadari, pengaruh dehidrasi ringan terhadap tubuh bisa mengakibatkan berkurangnya konsentrasi, mengamuk, dan sejumlah dampak lainnya. Meski dinilai ringan, bisa dibayangkan dampak berkurangnya konsentrasi dalam kehidupan manusia jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Bagi pelajar, kurangnya konsentrasi bisa berdampak pada penyerapan pelajaran yang diperoleh. Bagi karyawan, kurangnya konsentrasi bisa memengaruhi kinerja. "Kalau orang tengah berkendara, bisa fatal akibatnya," tambahnya.
Dehidrasi ringan juga bisa memicu terjadinya infeksi pada saluran kemih atau yang kerap dikenal orang dengan istilan anyang-anyangan. Sedangkan pada laki-laki, dehidrasi ringan bisa menyebabkan pembentukan batu ginjal.
Sayur dan Buah
Ides Haeruman Taufik dari Instalasi Gizi Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, menilai dalam kasus dehidrasi, ia mengibaratkan tubuh manusia layaknya .hutan. Harus ada pohon-pohon yang berfungsi sebagai penyerap air agar tidak terjadi banjir. "Nah, kalau dalam tubuh penyerapnya adalah sayur-sayuran dan buah-buahan. Tujuannya agar proses dehidrasi tidak berlangsung cepat," katanya.
Dengan banyak mengonsumsi buah-buahan serta sayur-mayur yang kaya serat ini, Ides mengatakan bahwa proses pengeluaran cairan dalam tubuh bisa lebih lambat dibandingkan dengan orang yang sedikit mengonsumsi sayur-mayur dan buah.
Selain itu, kandungan vitamin dan mineral dalam buah dan sayur, mineral seperti natrium, kalium atau magnesium, juga bisa membantu proses metabolisme cairan dalam rubuh. Sedangkan pada vitamin, misalnya vitamin C dan vitamin B kompleks, berperan dalam membantu proses metabolime cairan, sehingga bisa mencegah dehidasi.
Kendati demikian, bukan berarti peran air putih dalam proses metabolisme cairan dalam tubuh manusia bisa digantikan dengan hanya mengonsumsi sayur dan buah. Menurut Ides, setiap individu tetap membutuhkan cairan dalam bentuk air putih sebagaimana yang dianjurkan, yakni sedikitnya dua liter setiap harinya atau setara dengan 8-10 gelas.
Namun dalam kasus-kasus tertentu seperti pada olah ragawan maupun penderita penyakit diabetes melitus (kencing manis), jumlah konsumsi air putih tentunya jauh lebih besar, yakni antara 10-12 gelas per harinya. "Buah-buahan dan sayur-mayur adalah pendukung untuk lebih memaksimalkan proses metabolisme dalam tubuh," tambahnya.
Lalu, buah dan sayur seperti apakah yang bisa direkomendasikan sebagai pelengkap untuk mendukung keterpenuhan cairan dalam tubuh dan terhindar dari dehidrasi? Pada dasarnya, menurut Ides, tidak ada spesi-fikasi buah atau sayur yang baik untuk mendukung dan mencegah terjadinya dehidrasi. Asalkan buah dan sayur yang dikonsumsi berwarna hijau dengan kandungan kalium dan natrium tinggi, seperti apel dan pisang, serta buah yang
memiliki kandungan vitamin C tinggi seperti pada golongan jeruk.
"Dalam kasus dehidrasi ada baiknya buah dan sayur ini dijus sendiri tanpa disaring sehingga serat dan unsur-unsur vitamin serta mineralnya bisa maksimal," katanya. nik/L-4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar